Ketua DPRD Provinsi Lampung Lepas Jenazah Srie Atidah ke Peristirahatan Terakhir
KATALAMPUNG.COM - Ketua
DPRD Provinsi Lampung Mingrum Gumay melepas langsung jenazah Hj. Srie Atidah, Mantan
Ketua DPRD Lampung (1999-2004). Hj. Srie Atidah meninggal dunia Rabu (18/3).
“Kepergian beliau tentu
kehilangan bagi kami semua, tentu banyak kontribusi beliau semasa hidup untuk
Provinsi Lampung ,” ujar Mingrum Gumay.
“Atas nama pimpinan DPRD,
rekan-rekan anggota DPRD Provinsi Lampung, seluruh jajaran Sekretariat DPRD
Provinsi, serta atas nama Ketua GMNI Lampung, kami mengucapkan turut berbela
sungkawa yang mendalam atas kepergian almarhumah Hj. Srie Atidah,” kata
Mingrum.
Kepada pihak keluarga,
Mingrum juga berharap kekeluargaan yang terjalin, kiranya akan tetap terus
dapat dipelihara di masa datang.
“Kami semua ikut berdoa
agar arwah beliau diterima di sisi Allah SWT sesuai amal dan ibadahnya serta
diampuni segala dosanya. Juga tidak lupa kami mendoakan agar keluarga yang
ditinggalkan dapat kiranya diberikan Allah SWT keikhlasan, kekuatan dan
ketabahan dalam melepas kepergian almarhum,” katanya menambahkan.
Sebagai catatan, Ny. Hj.
Srie Atidah menggaungkan perubahan ketika rezim kuat-kuatnya. Sebagai pimpinan
Partai Demokrasi Indonesia di Lampung (PDI, sebelum kemudian menjadi PDI-P),
Atidah menjadi sebongkah representasi perjuangan yang tidak kenal gentar, ”
Atidah bergerak yang
riaknya ikut menimbulkan arus perubahan sejak 1996–1997, ketika Republik ini
menjelang “persalinan”. Sebagai istri tokoh PDI Lampung, Matt Al Amin Kraying,
Atidah tidak sekadar “mendampingi suami” dalam masa-masa genting tersebut.
Wanita pemberani ini dikenal amat blakblakan. Jika dia menilai lawan diskusinya
tidak segaris dengan peraturan, bahkan partai, Atidah lantang bersuara, bahkan
“mengaum”.
Tanpa tedeng aling-aling
dia berargumen, meletakkan rasio di atas fakta lalu merajutnya dalam kata-kata
keras. Alumnus GMNI ini sempat menjadi ketua DPC PDI-P Bandar Lampung. Bahkan,
dia kemudian menjadi Ketua DPRD Lampung; dan tercatat sebagai wanita pertama
yang memimpin parlemen di tingkat provinsi.
Pengagum Bung Karno ini
memang dididik dengan nilai-nilai pergerakan oleh kedua orang tuanya, bahkan
oleh kakek neneknya. Atidah kecil biasa nimbrung jika orang tuanya berdiskusi
di rumah sembari bersandar di sisi kursi atau duduk santai di karpet atau
mengamati saat kakeknya berdiskusi, berorasi atau berpidato dengan tokoh-tokoh
nasional seperti Mr. Wilopo, Hadisubeno. Neneknya, tokoh Asyiyah, menanamkan
pendidikan agamis, senantiasa menanamkan soal iman dan takwa.(***)