Rakor Pengendalian Inflasi Daerah, Lampung Catat Penurunan IPH
Bandar Lampung — Staf Ahli Bidang Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Lampung, Bani Ispriyanto, mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah secara virtual di Ruang Command Center, Senin (19/8/2025).
Rapat ke-130 tersebut
dipimpin Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Tomsi Tohir. Ia
menekankan pentingnya setiap narasumber menyampaikan poin strategis yang bisa
segera ditindaklanjuti untuk menekan inflasi di daerah.
Deputi Statistik Sosial
Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, memaparkan bahwa inflasi nasional
pada Juli 2025 tercatat sebesar 2,37% (year on year), naik dibandingkan Juni
yang sebesar 1,87%. Komoditas utama penyumbang inflasi adalah beras (0,15%),
bawang merah (0,10%), tomat (0,08%), dan cabai rawit (0,08%).
Beras tercatat menyumbang
inflasi selama tiga bulan berturut-turut (Mei–Juli 2025). Karena itu,
pemerintah diminta mewaspadai tren kenaikan harga beras agar tidak memberi
andil lebih besar pada inflasi. Sebaliknya, bawang putih justru menjadi
komoditas penyumbang deflasi.
Berdasarkan data SP2KP
hingga 15 Agustus 2025, tercatat 14 provinsi mengalami kenaikan Indeks
Perkembangan Harga (IPH), 22 provinsi turun, dan 2 provinsi relatif stabil.
Lampung termasuk daerah dengan penurunan IPH sebesar -0,06%, didorong turunnya
harga bawang putih, cabai rawit, dan cabai merah.
Harga beras di Lampung masih
menunjukkan tren kenaikan. Rata-rata harga beras medium mencapai Rp14.012 per
kilogram (naik 1,15% dibanding Juli), sementara beras premium Rp15.435 (naik
0,82%). Minyak goreng kemasan merek Minyakita juga turun tipis 0,02%, namun
masih di atas harga eceran tertinggi (HET). Di Kota Metro, harga Minyakita
tercatat Rp15.500 per liter.
Sementara itu, harga cabai
rawit turun signifikan pada minggu kedua Agustus sebesar 16,76% dibanding Juli.
Cabai merah juga turun tipis 0,03%. Sebaliknya, bawang merah naik tajam 14,57%,
telur ayam ras naik 0,47%, dan daging ayam ras turun 0,33%.
Dari sisi ketersediaan,
Kepala Divisi Perencanaan Pelayanan Publik Perum Bulog, Rini Andrida,
melaporkan realisasi penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan
(SPHP) periode Juli–Desember 2025 mencapai 38,8 juta ton. Penyaluran minyak
goreng Minyakita juga sudah mencapai 93% per 15 Agustus. Namun, Sekjen
Kemendagri Tomsi Tohir mengingatkan agar distribusi beras SPHP lebih merata ke
pasar tradisional, karena harga di pasar tersebut masih relatif tinggi.
Pada kesempatan yang sama,
Staf Ahli Menteri Bidang Investasi Pertanian, Suwandi, menyoroti harga jagung
yang masih berfluktuasi akibat disparitas distribusi antara produsen dan
peternak. Lampung tercatat sebagai salah satu dari lima daerah dengan luas
panen jagung terbesar nasional, yakni 31.738 hektare pada Agustus 2025. Harga
rata-rata jagung kering panen per 17 Agustus mencapai Rp5.249 per kilogram.
Selain isu pangan, Dirjen
Perumahan Pedesaan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman, Dr. Imran,
juga menyampaikan progres program pembangunan 3 juta rumah. Ia mengapresiasi
pencapaian pemerintah daerah dalam menerbitkan 100% Perkada PBG dan BPHTB. Kabupaten
Lampung Selatan masuk peringkat kedua nasional dalam penerbitan dokumen PBG di
wilayah pesisir (1.760 dokumen), sedangkan Kota Bandar Lampung menempati urutan
ke-14 untuk wilayah perkotaan (505 dokumen).
Imran juga memberikan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah daerah, antara lain memperkuat layanan pengaduan konsumen perumahan, mengalokasikan bantuan rumah layak huni dalam APBD maupun APBDes, serta membebaskan bea PBG dan BPHTB bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).(kmf)
