Wamendagri Bima Arya Buka Retreat Nasional Sekretaris Daerah se-Indonesia, Tekankan Pemerintahan Efektif
JATINANGOR — Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan, bersama Kepala Bappeda Anang Risgiyanto, mengikuti kegiatan Retreat Nasional Sekretaris Daerah se-Indonesia di Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, yang dibuka oleh Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya pada Minggu (26/10/2025).
Selain
kedua pejabat Pemprov Lampung tersebut, kegiatan Retreat Nasional Sekretaris
Daerah se-Indonesia tersebut juga diikuti oleh seluruh Sekretaris Daerah
kabupaten/kota se-Provinsi Lampung.
Wakil Menteri Dalam Negeri
(Wamendagri) Bima Arya dalam kesemptan itu mengatakan, bahwa efektivitas pemerintahan menjadi kunci
utama bagi Indonesia untuk mencapai status negara maju dalam dua dekade ke
depan. Hal itu ia sampaikan saat membuka
Menurut
Bima Arya, kondisi saat ini jauh berbeda dibanding 10 hingga 20 tahun lalu.
Indonesia kini berada di persimpangan sejarah menuju negara maju pada tahun
2045, memanfaatkan bonus demografi dan keluar dari jebakan kelas menengah.
“Arah Presiden sangat jelas: Indonesia
harus menjadi negara maju dalam 20 tahun. Kalau tidak, kita akan selamanya
terjebak sebagai negara kelas menengah,” tegasnya.
Ia
menyampaikan bahwa dalam setiap rapat kabinet, Presiden menekankan pentingnya
membangun pemerintahan yang efektif, sinergis, dan kolaboratif. Seluruh
kementerian, lembaga, provinsi, dan kabupaten/kota diminta berjalan seirama
agar kebijakan pembangunan nasional dapat terlaksana dengan baik.
“Efektivitas itu tidak berarti sebelumnya
tidak efektif, tetapi harus lebih tajam, efisien, dan menyatu antara pusat dan
daerah,” ujarnya.
Bima
menjelaskan, salah satu fokus besar pemerintahan saat ini adalah efisiensi
dalam pengelolaan keuangan negara dan daerah. Ia menyinggung adanya kebocoran
anggaran sebagaimana disorot dalam buku Paradoks Indonesia karya Presiden Joko
Widodo, yang menjadi dasar semangat reformasi pengelolaan keuangan publik.
“Semangat pemerintahan hari ini adalah
memastikan uang negara dikelola jauh lebih efektif. Babak pertama efisiensi
sudah dimulai, kini kita masuk babak kedua: penyesuaian dan sinkronisasi
transfer ke daerah (TKD),” terang Bima.
Sebagai
mantan kepala daerah, ia mengaku memahami tantangan yang dihadapi para Sekda
dalam menyesuaikan kebijakan TKD. Namun, ia menegaskan, langkah tersebut
diperlukan agar program pembangunan dapat berjalan tepat sasaran tanpa
pemborosan anggaran.
Lebih
lanjut, Wamendagri menuturkan bahwa retreat nasional Sekda ini menjadi ruang
penting bagi Kemendagri untuk memediasi kebutuhan antara pusat dan daerah.
Forum tersebut dihadiri para kepala daerah, kepala Bappeda, serta perwakilan
kementerian dan lembaga yang relevan.
“Kami ingin memfasilitasi dan
menjembatani. Di satu sisi, pemerintah pusat mendorong efektivitas APBD dan
realisasi program prioritas nasional, di sisi lain kami juga mendengar langsung
kebutuhan dari daerah,” jelasnya.
Ia
menegaskan bahwa para wakil menteri dalam negeri diberi tugas khusus oleh
Mendagri untuk menjadi mentor bagi daerah. Bima sendiri akan fokus mendampingi
wilayah Jawa dan Sumatra, sedangkan dua wakil menteri lainnya mengawal kawasan
Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua dan Nusa Tenggara.
“Kami ingin menjadi tempat curhat kepala
daerah, hadir langsung, mendengar tantangan di lapangan, dan menyampaikan
kebijakan pusat agar nyambung dengan kebutuhan daerah,” tambahnya.
Di
akhir sambutannya, Bima Arya juga menyinggung suasana kebersamaan dalam retreat
tersebut. Ia berharap seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan hingga akhir
dengan penuh semangat dan kenyamanan.
“Kami ingin Bapak-Ibu nyaman di sini.
Silakan berolahraga pagi agar kuat menghadapi udara dingin Jatinangor,” ujarnya
disambut tawa peserta.
Dengan
gaya khasnya yang hangat dan humoris, Bima menutup sambutan dengan pesan
motivatif: “Angka
TKD mungkin tidak sama lagi, tapi semangat dan kinerja harus tetap sama, tetap
terima, tetap semangat untuk Indonesia maju.”
Forum strategis tersebut dihadiri oleh 1.104 peserta yang terdiri dari 38 Sekda provinsi, 514 Sekda kabupaten/kota, serta para kepala Bappeda dari seluruh Indonesia. Mereka mengikuti serangkaian sesi diskusi tematik, pembekalan kebijakan, dan koordinasi lintas sektor bersama 22 kementerian/lembaga, termasuk Bappenas, Kementerian Keuangan, Kementerian PAN-RB, Kementerian ESDM, dan Kementerian Pendidikan Tinggi.(*)
