Pemprov Lampung Optimalkan DTSEN untuk Pastikan Bantuan Lebih Tepat Sasaran
BANDARLAMPUNG — Pemerintah Provinsi Lampung menegaskan komitmennya dalam mengarahkan program pembangunan kepada kelompok masyarakat paling rentan, khususnya desil 1 dan desil 2, melalui pemanfaatan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Sekretaris Daerah Provinsi
Lampung, Marindo Kurniawan, menyampaikan bahwa seluruh program daerah harus
benar-benar terfokus pada kelompok tersebut agar manfaatnya dapat dirasakan
secara langsung dan terukur. Menurutnya, ketepatan sasaran menjadi kunci
keberhasilan intervensi pemerintah.
Pernyataan ini disampaikan
dalam Rapat Koordinasi Pemanfaatan DTSEN yang digelar di Kantor Gubernur
Lampung. Rapat tersebut turut dihadiri sejumlah kepala perangkat daerah,
termasuk Bappeda, Dinas Sosial, Dinas Kominfotik, Badan Pusat Statistik (BPS),
serta perwakilan Program Keluarga Harapan (PKH).
Dalam arahannya, Sekda
menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, hingga
kabupaten/kota. Ia menilai, upaya penanggulangan kemiskinan dan pengangguran
harus dilakukan secara terpadu agar hasilnya lebih optimal. Seluruh program,
menurutnya, perlu dijalankan secara kolaboratif untuk meningkatkan
kesejahteraan dan mengurangi kesenjangan sosial.
Selain itu, ia juga
mendorong agar setiap intervensi program dapat diukur secara konkret, baik dari
peningkatan pendapatan masyarakat maupun dari penurunan beban pengeluaran rumah
tangga miskin.
Sementara itu, Kepala BPS
Provinsi Lampung, Ahmadriswan Nasution, menjelaskan bahwa DTSEN memungkinkan
pemerintah mengidentifikasi masyarakat miskin secara lebih akurat melalui
pendekatan by name by address. Dengan metode ini, sasaran bantuan menjadi lebih
jelas dan spesifik.
Ia mengungkapkan bahwa
tingkat kemiskinan di Lampung saat ini berada di angka 9,66 persen atau sekitar
800 ribu jiwa. Data tersebut menjadi dasar penting dalam penyusunan kebijakan
yang lebih tepat sasaran.
BPS juga memperkenalkan
aplikasi visualisasi data bernama SIGER, yang dapat membantu pemerintah daerah
menganalisis kondisi sosial ekonomi masyarakat berdasarkan berbagai indikator,
seperti desil, wilayah, tingkat pendidikan, hingga kondisi tempat tinggal.
Ahmad Riswan menegaskan
bahwa data tidak boleh berhenti sebagai angka semata, melainkan harus diolah
menjadi kebijakan yang berdampak nyata. Ia optimistis, intervensi yang tepat di
tingkat mikro akan memberikan hasil positif secara makro.
Di sisi lain, Kepala Bappeda
Provinsi Lampung, Anang Risgiyanto, menyoroti tantangan terkait validitas data,
khususnya adanya inclusion error dan exclusion error. Ia menilai, penggunaan
DTSEN dan aplikasi SIGER dapat membantu meningkatkan kualitas data melalui
proses verifikasi lapangan atau ground checking.
Dinas Sosial mencatat
tingkat kesalahan data masih cukup tinggi, yakni mencapai 28,8 persen. Oleh
karena itu, diperlukan penguatan peran operator desa dalam proses pemutakhiran
data, termasuk pemberian insentif agar pembaruan data berjalan lebih akurat dan
berkelanjutan.
Koordinator PKH Provinsi
Lampung, Slamet Riyadi, menambahkan bahwa saat ini terdapat lebih dari 380 ribu
penerima manfaat PKH di Lampung yang didampingi oleh 1.549 petugas di 229
kecamatan. Ia memastikan bahwa proses pemutakhiran data terus dilakukan untuk
menjaga ketepatan sasaran bantuan.
Ia juga melaporkan bahwa
proses verifikasi penerima bantuan iuran jaminan kesehatan nonaktif telah
mencapai lebih dari 71 persen dari total 145 ribu keluarga, sebagai bagian dari
upaya peningkatan kualitas data sosial.
Ke depan, Pemprov Lampung
bersama BPS dan berbagai pemangku kepentingan akan terus memperkuat integrasi
serta pemanfaatan data dalam perumusan kebijakan. Pemutakhiran data secara
berkala setiap triwulan diharapkan mampu menjaga akurasi sasaran program.
Dengan pendekatan berbasis
data yang semakin terintegrasi, pemerintah optimistis program pembangunan akan
lebih efektif dalam menurunkan kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan, serta
mendorong pembangunan yang inklusif di Lampung.(kmf)
