Kadis Kominfotik: Kemiskinan di Desa Menurun, Kebijakan Gubernur Mirza Mulai Berbuah Hasil
Bandar Lampung – Pemerintah Provinsi Lampung menyambut baik rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung, Jumat (25/7/2025), yang mencatat penurunan signifikan angka kemiskinan di wilayah pedesaan pada Maret 2025.
Penurunan ini dinilai sebagai
bukti awal efektivitas kebijakan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal yang fokus
pada penguatan ekonomi desa. “Ini menunjukkan kebijakan Pak Gubernur mulai
berdampak nyata. Momentum ini akan terus kita dorong dengan berbagai program
yang terintegrasi,” ujar Kadis Kominfotik Lampung, Ganjar Jationo, dalam Rakor
bersama Kadis Kominfo se-Lampung.
Data BPS mencatat, garis
kemiskinan di Lampung per Maret 2025 berada di angka Rp 612.451, dengan porsi
kebutuhan makanan masih mendominasi sebesar 74,76%. Di perkotaan, garis
kemiskinan tercatat Rp 659.660 (naik 0,61%), sementara di pedesaan Rp 588.958
(naik 3% dari September 2024).
Meski garis kemiskinan naik,
jumlah penduduk miskin justru menurun. Di desa, angkanya turun dari 12,04%
(September 2024) menjadi 11,32% (Maret 2025), atau turun 0,71%. Di kota,
penurunannya hanya 0,42%, dari 7,91% menjadi 7,49%.
Menurut Ganjar, hasil ini tak
lepas dari komitmen Gubernur Mirza yang sejak awal memprioritaskan sektor
pertanian sebagai penggerak utama ekonomi desa. Salah satu strateginya adalah
hilirisasi pertanian berbasis komoditas unggulan seperti padi, jagung, kopi,
dan pisang.
Berbagai langkah konkret juga
telah dijalankan, seperti pengadaan Rice Milling Unit (RMU), dryer,
dan pupuk organik cair (POC) di sentra produksi padi. Tujuannya, meningkatkan
produktivitas serta nilai tambah petani di pedesaan.
Ganjar juga menyoroti kebijakan
nasional Presiden Prabowo, seperti penetapan harga dasar gabah Rp 6.500/kg dan
instruksi kepada Bulog untuk menyerap hasil panen secara maksimal. “Pak
Gubernur mendukung penuh langkah ini dan menyiapkan strategi lanjutan agar
petani Lampung benar-benar merasakan manfaatnya,” jelasnya.
Saat ini, Pemprov Lampung tengah
merancang penguatan kelembagaan transportasi hasil tani untuk menekan biaya
logistik, yang selama ini menjadi salah satu penyebab rendahnya pendapatan
petani.
“Penurunan kemiskinan di desa adalah awal yang menggembirakan, meski tantangan ke depan masih besar. Kami yakin, dengan arah kebijakan yang konsisten dan berbasis data, pengentasan kemiskinan di Lampung bisa dipercepat,” pungkas Ganjar. (kmf)
