Perkuat Hilirisasi Singkong, Pemprov Lampung Lepas Ekspor Ribuan Ton Tapioka ke Tiongkok
KATALAMPUNG.COM — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung makin mempertegas posisinya sebagai pemimpin pasar tapioka nasional melalui pengiriman ekspor perdana sebanyak 3.330 ton ke Tiongkok pada Selasa (05/05/2026). Langkah strategis ini menjadi momentum penting dalam memacu percepatan hilirisasi komoditas singkong demi meningkatkan nilai tambah ekonomi daerah serta mendongkrak kesejahteraan petani lokal.
Gubernur Lampung, Rahmat
Mirzani Djausal, menegaskan bahwa penataan ekosistem singkong menjadi prioritas
utama daerah mengingat Lampung menyumbang hingga 70 persen dari total produksi
tapioka nasional. Pemerintah daerah berkomitmen mentransformasi komoditas
mentah menjadi produk industri yang memiliki daya saing tinggi di pasar global
melalui penguatan regulasi Peraturan Gubernur untuk menjaga keseimbangan antara
pertumbuhan industri dan stabilitas harga di tingkat petani.
Inisiasi Riset Nasional dan
Tren Positif Pasar Ekspor
Guna memperkuat daya saing
produk lokal terhadap kompetitor utama dunia seperti Thailand dan Vietnam,
Pemprov Lampung berkolaborasi dengan Universitas Lampung menginisiasi
pembangunan National Cassava Center. Pusat riset ini difokuskan pada
pengembangan bibit unggul bermutu tinggi serta penyediaan alat mesin pertanian
khusus guna memangkas biaya produksi secara signifikan.
Langkah hilirisasi tersebut
berdampak langsung pada lonjakan volume ekspor tapioka daerah yang tercatat
mencapai 10.000 ton hingga April 2026, mendekati separuh dari total capaian
tahun sebelumnya yang menembus 22.500 ton dengan nilai transaksi Rp130 miliar.
Badan Karantina Tumbuhan memastikan bahwa kualitas tapioka Lampung telah
memenuhi standar keamanan pangan internasional, sementara pihak pelaku usaha
mulai menjajaki potensi ekspansi pasar ke Korea Selatan dan Bangladesh.
Transformasi Menjadi
Eksportir Neto Turunan Singkong
Keberhasilan pelepasan
ekspor ke pasar Tiongkok ini menandai fase krusial transformasi Provinsi Lampung
dari importir menjadi eksportir neto produk turunan singkong. Sinergi antara
kebijakan hilirisasi pemerintah daerah, pengawasan mutu karantina, serta
investasi pelaku usaha diharapkan mampu menciptakan ekosistem industri
pertanian yang berkelanjutan.
Melalui integrasi riset dan pembukaan akses pasar global secara masif, Pemprov Lampung optimis sektor pengolahan singkong dapat terus berkembang. Langkah ini diproyeksikan menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif sekaligus mendukung program kemandirian pangan nasional.(KMF)
